Tampilkan postingan dengan label Nazi Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nazi Jerman. Tampilkan semua postingan

19/08/11

Presiden SBY Melakukan Salam Nazi? (Candid Camera)

Bila sebuah foto diambil pada waktu dan tempat yang tepat, kadang hasilnya bisa tak terduga!


Biografi Kapitänleutnant Fritz Schneewind (1917-1945), Jagoan U-boat Kelahiran Padang!

Fritz Schneewind


U-511 tiba di Kure bulan September 1943. Tampak bendera Jepang dibentangkan di samping kapal


Para awak U-511 berbaris setelah kedatangan mereka di Kure


Tidak banyak data tentang kapten u-boat satu ini, salah satunya adalah yang saya dapatkan dari uboat.net :

Kapitänleutnant Fritz Schneewind (kru 36)

Lahir: 10 April 1917 di Padang, Sumatera Barat
Meninggal: 23 April (usia 28 tahun) 1945 di Laut Jawa

Perhatikan bahwa dia lahir dan meninggal di Indonesia!

Terus apa saja prestasinya?

5 kapal ditenggelamkan dengan total tonase 30.052 GRT
1 kapal rusak total dengan tonase 6.993 ton

Pangkat:
3 April 1936: Offiziersanwärter
10 September 1936: Seekadett
1 Mei 1937: Fähnrich zur See
1 Juli 1938: Oberfähnrich zur See
1 Oktober 1938: Leutnant zur See
1 Oct 1940: Oberleutnant zur See
1 Mar 1943: Kapitänleutnant

Penghargaan:
Iron Cross 2nd Class
Iron Cross 1st Class
German Cross in Gold (11 Januari 1945)

Komando U-boat:
U-511 - 18 Desember 1942 s/d 20 November 1943 : 2 patroli (158 hari)
U-183 - 20 November 1943 s/d 23 April 1945 : 3 patroli (99 hari)

Info Patroli:
1. U-511 . Berangkat tanggal 31 Desember 1942 dari Lorient dan tiba tanggal 8 Maret 1943 di Lorient: 1 patroli selama 68 hari,
2. U-511. Berangkat tanggal 10 Mei 1943 dari Lorient dan tiba tanggal 7 Agustus 1943 di Kure: 2 patroli selama 90 hari,
3. U-183. Berangkat tanggal 28 Januari 1944 dari Singapura dan tiba tanggal 30 Januari 1944 di Penang: 3 hari,
4. U-183. Berangkat tanggal 10 Februari 1944 dari Penang dan tiba tanggal 21 Maret 1944 di Penang: 3 patroli selama 41 hari,
5. U-183. Berangkat tanggal 3 Mei 1944 dari Penang dan tiba tanggal 5 Mei 1944 di Penang: 4 patroli selama 3 hari,
6. U-183. Berangkat tanggal 17 Mei 1944 di Penang dan tiba tanggal 7 Juli 1944 di Penang: 4 patroli selama 52 hari,
7. U-183. Berangkat bulan Agustus 1944 dari Penang dan tiba di bulan yang sama di Singapura,
8. U-183. Berangkat tanggal 16 Oktober 1944 di Singapura dan tiba tanggal 30 Oktober 1944 di Kobe: 15 hari,
9. U-183. Berangkat tanggal 22 Februari 1945 dari Kobe dan tiba tanggal 9 Maret 1945 di Batavia: 16 hari,
10. U-183. Berangkat tanggal 21 April 1945 dari Batavia dan tenggelam tanggal 23 April 1945: 5 patroli selama 3 hari,
Total 5 patroli dan 257 hari di samudera

Kapal yang ditenggelamkan:
"William Wilberforce" (5.004 ton, Inggris). Ditenggelamkan tanggal 9 Januari 1943 oleh U-511.
"Sebastian Cermeno" (7.194 ton, AS). Ditenggelamkan tanggal 27 Juni 1943 oleh U-511.
"Samuel Heintzelman" (7.176 ton, AS). Ditenggelamkan tanggal 9 Juli 1943 oleh U-511.
"Palma" (5.419 ton, Inggris). Ditenggelamkan tanggal 29 Februari 1944 oleh U-183.
"British Loyalty" (6.993 ton, Inggris). Ditenggelamkan tanggal 9 Maret 1944 oleh U-183.
"Helen Moller" (5.259 ton, Inggris). Ditenggelamkan tanggal 5 Juni 1944 oleh U-183.
Jumlah 6 buah kapal dengan total tonase 37.045 GRT

Fritz Schneewind tenggelam bersama dengan U-183 yang dikapteninya di Laut Jawa tanggal 23 April 1945 jam 13.00 (koordinat 04.50S, 112.52E), setelah terkena torpedo yang dilepaskan oleh kapal selam Amerika "Besugo". 54 orang awak kapal tewas dan hanya 1 yang selamat!


Ternyata Nazi Jerman Juga Merayakan AGUSTUSAN!


Males banget kalau panjat pinangnya cuman dapat yang beginian!


Ngelihat dari susah payahnya prajurit Luftwaffe dalam lomba tarik tambang ini, bisa dipastikan bahwa lawan mereka adalah BULLDOZER!


Awas, jangan sampai telurnya jatuh dari sendok! Kalau jatuh, maka jatah cuti dihapus dan rela dikasih tugas tambahan ngebersihin WC semua anggota!


Sejarah Kapal-Kapal Monsun dan Pangkalan U-Boat Jerman Di Penang Dalam Perang Dunia II


Upacara para awak U-181 di Penang


Pangkalan Angkatan Laut Jerman di Malaya dan Indonesia, 1944-1945


Beginilah mungkin gambaran seorang pelukis tentang U-boat yang baru saja berlabuh di Penang


Dok Swettenham - dulu dan sekarang


Tim penyambutan Jerman di Dok Swettenham sedang bersiap-siap menunggu U-boat yang akan tiba sebentar lagi. Di sebelah kanan kita dapat melihat bengkel perbaikan yang dibangun oleh Jepang untuk keperluan personil Kriegsmarine. Orang kelima dari kiri dalam foto ini adalah Wilhelm Dommes, komandan pasukan Jerman di Asia Tenggara


Wilhelm Dommes (kedua dari kiri) berbincang-bincang dengan sekutu Jepangnya, ditemani oleh seorang anggota Kriegsmarine (penterjemah?)


Pasangan yang berbahagia: Willi Hans Böhm dan Agnes Vaz. Seru juga kalau kisah cinta mereka difilmkan!


Salah seorang pembaca blog ini dari Singapura bernama Ibrahim Ahmad telah berbaik hati mengirimkan edisi e-book dari sebuah buku yang sangat bagus: "More Than Merchants, A History of the German-Speaking Community in Penang 1800s-1940" karya Khoo Salma Nasution (bingung juga saya sama nama pengarangnya, kayaknya campuran Cina, Melayu dan Medan!). Isinya benar-benar bagus, karena salah satu babnya ada yang khusus menceritakan tentang operasi U-boat di Asia Tenggara. Adalah tugas saya untuk menyebarluaskan informasi ini karena pada kenyataannya memang sangat sedikit sekali referensi dalam masalah ini. Terimakasih sebesar-besarnya pada saudaraku Ibrahim Ahmad!!

Langsung saja kita menuju TKP:

Setelah pecahnya Perang Dunia II tahun 1939, satuan U-boat Jerman langsung menjadi ancaman utama perdagangan internasional yang saat itu mengandalkan samudera sebagai sarana transportasinya. Para pelaut yang berlayar dari Penang ke arah barat selalu was-was kalau-kalau di jalan mereka kena apes bertemu dengan "Wolf Pack" Jerman. Berita tentang hal ini langsung menyebar dan ancaman U-boat telah menjadi legenda bagi orang Melayu sendiri, yang menyebut U-boat dengan sebutan "Kapal Yu/Hiu" (Shark Boat). Raja Shahabuddin, seorang Muslim dari Perak yang akan menunaikan ibadah haji dan berangkat dari pelabuhan Penang pada tahun 1940 telah menulis sebuah puisi mengenai hal ini:

Selamat tinggal tanah Melayu
Sahaya belayar berasa sayu
Umpama daun badanku layu
Takut berjumpa kapal 'Yu'

Yu kapal penyelam Dipunyai Jerman timbul tenggelam
Mengambat musuhnya di lautan dalam
Di waktu siang ataupun silam

Ketika Jepang menyerang Semenanjung Malaya, Inggris buru-buru mengungsikan pasukannya dan meninggalkan rakyat Malaka di bawah belas kasihan bangsa Dai Nippon (Desember 1941-1945). Bagi kebanyakan rakyat Melayu saat itu, Jepang dipandang sebagai penjajah baru yang lebih kejam dari Inggris, dan Jerman adalah sekutunya yang paling utama. Tapi Reich Hitler dan Perang Eropa dirasa begitu jauhnya di tanah seberang. Diam-diam Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman) mendirikan pangkalan bagi pasukan kapal selamnya (u-boat) di Penang untuk memudahkan patroli di perairan sekitar situ sekaligus sebagai basis pengangkutan bahan-bahan industri yang sangat dibutuhkan Berlin. Kerahasiaan tempatnya begitu terjaga, sehingga bahkan hanya sedikit saja penduduk lokal yang mengetahui keberadaannya!

Selama Perang Dunia II, Penang berfungsi sebagai pangkalan utama Jepang dan Jerman di Timur Jauh sekaligus menjadi "pengganggu" utama jalur perdagangan dan komunikasi Sekutu yang melintasi samudera Hindia/Indonesia.

Pada bulan Februari 1942, Jepang secara resmi menjadikan Penang sebagai tempat berkumpul pasukan kapal selamnya, dengan di bawah komando langsung Laksamana Uzuki. Kapal selam Jepang yang akan menuju Eropa sudah pasti mengisi bahan bakarnya sekaligus berangkat dari pelabuhan ini.

Pada awal tahun 1943, U-boat Jerman mulai beroperasi di Samudera Hindia. Pada akhir tahun tersebut pula, Angkatan Laut Jerman memutuskan untuk menggunakan Penang sebagai pangkalan bagi satuan kapal selamnya di Asia Tenggara, sama seperti Jepang. Dennis Gunton, yang telah mengarang buku "The Penang Submarines" (1970) memberi tanda bahwa ini adalah "satu-satunya contoh mengenai kerjasama operasional yang sebenarnya antara Jerman dengan Jepang dalam Perang Dunia II."

Dari sejak bulan November 1942 sebenarnya Jerman telah merasa perlunya membangun pangkalan Angkatan Laut di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Jepang. Penggagas utama hal ini adalah atase militer Jerman di Tokyo, Laksamana Paul Wennecker. Jerman telah menegosiasikan pula dengan Jepang mengenai bolehnya mereka mensuplai dan memperbaiki u-boat yang rusak di Semenanjung Malaya. Pada bulan Desember, diputuskanlah Penang sebagai pangkalan kapal selam, sementara Singapura menjadi pusat perbaikan dan suplai.

Pada bulan April 1943, U-178 dikirim ke Penang untuk mempersiapkan pembangunan pangkalan yang dimaksud. Tapi kemudian U-boat pertama yang berlabuh di Penang pada tanggal 15 Juli 1943 justru adalah U-511 yang dikapteni oleh Fritz Schneewind. Ini adalah satu dari dua kapal selam yang dipersembahkan Jerman kepada Jepang untuk keperluan... penyontekan! Maksudnya, Jepang ingin membuat kapal selam yang lebih tangguh dari yang sudah dia punyai, dan sebagai bahan risetnya apalagi kalau bukan kapal selam dari negara yang dikenal paling top markotop dalam hal ini: Jerman.

Ketika kapal selamnya melanjutkan perjalanan ke Kobe, Schneewind sendiri tetap tinggal di Penang sebagai perwira senior sementara di sana.

U-178 akhirnya tiba di Penang di akhir Agustus 1943 setelah 152 hari menghabiskan perjalanan di lautan! Komandannya, Kapitänleutnant Wilhelm Dommes sang jagoan u-boat peraih Ritterkreuz, menggantikan Schneewind sebagai kepala operasi U-boat Jerman di Penang dengan fasilitas pendukung di Singapura, Jakarta, Surabaya dan Kobe. Dia ditugaskan untuk mempersiapkan pembentukan Monsumboote - unit U-boat yang beroperasi di Timur Jauh dan Samudera Hindia.

Gelombang pertama dari 11 'Kapal-kapal selam Monsun' berangkat ke Penang dari pangkalan-pangkalan Jerman di Norwegia, Prancis dan Jerman bulan Juni-Juli 1943. Hanya 4 yang sampai di Penang, Oktober-November 1943. Mereka adalah U-188 (dikomandani Kapitänleutnant Siegfried Lüdden), U-168 (dikomandani Kapitänleutnant Helmuth Pich), U-532 (dikomandani Fregattenkapitän Ottoheinrich Junker), dan U-183 (dikomandani Korvettenkapitän Heinrich Schäfer). Karena kelelahan berat setelah perjalanan yang amit-amit panjangnya, Schäfer digantikan oleh Schneewind sebagai komandan U-183.

Ukuran dari Flotilla Penang ini sendiri tidak pernah melebihi lima kapal dalam satu waktu. Bukan karena terbatasnya U-boat, melainkan karena ukuran pangkalannya sendiri yang memang hanya mampu memuat segitu. Dari permulaan, pihak Jerman telah menemui banyak hambatan. Kerjasama dengan mitranya Jepang sangat dipersulit oleh miskomunikasi yang sering terjadi. Bayangkan saja, komandan kapal selam Jepang disana berpangkat Laksamana, sedangkan komandan kapal selam Jerman jauuh di bawahnya: Kapitänleutnant! Sebenarnya pengganti Dommes sendiri telah dipersiapkan, yaitu Kapitänleutnant Herbert Kuppisch. Tapi kemudian Kuppisch dan kapalnya tenggelam di samudera Atlantik sehingga terpaksa jabatan Dommes diperpanjang.

Bulan Maret 1943, Korvettenkapitän Wolfgang Erhardt ditunjuk sebagai komandan semua pangkalan Kriegsmarine di Malaya dan Singapura, dengan berkantor di Singapura. Pada bulan April 1943, Instalasi Jerman di Penang (Stützpunkt Paul) kedatangan komandannya yang baru, yaitu Kapitänleutnant Konrad Hoppe. Januari 1944 posisi Hoppe digantikan oleh Dr. Hermann Kandeler. Tugas sebagai komandan ini mendapat bantuan dari Kapitänleutnant Waldemar Grützmacher, yang menjabat sebagai ajudan bagi setiap komandan pangkalan dari Oktober 1942 sampai dengan akhir perang.

Dommes mengisi pos sebagai komandan Flotilla secara de facto di Penang dari bulan Maret 1944. Bulan Desember, dia ditunjuk sebagai Chef im Südraum dan memegang kontrol semua pangkalan Kriegsmarine di 'wilayah Selatan' (markas besarnya, seperti biasa, di Singapura). Pangkatnya kemudian naik menjadi Fregattenkapitän di bulan Januari 1945.

Mengenai jabatannya ini, Lawrence Paterson (pengarang buku "Hitler's Grey Wolves: U-boats in the Indian Ocean" terbitan tahun 2004) menulis:

"Meskipun nama jabatannya begitu mentereng tapi tetap saja peran utama dipegang oleh Laksamana Wenneker, sehingga tidak jarang terjadi perbedaan kepentingan di antara kedua orang ini. Akibatnya, terjadi dualisme kepemimpinan dan perintah yang kadang tidak sinkron. Yang menderita tentu saja para prajurit di level bawah. Kurangnya stok perwira tinggi lapangan yang ahli dalam masalah strategi U-boat di Timur Jauh memberi pengaruh yang merugikan bagi Dommes dan juga bagi hubungannya dengan pejabat-pejabat Jepang yang berwenang."

Pada bulan Februari 1944 U-178 meninggalkan Penang menuju Eropa. Di lain pihak, empat lagi kapal selam Jerman yang akan menjadi 'Grup Monsun Kedua' telah berangkat dari pelabuhannya di Eropa akhir tahun 1943 menuju Asia Tenggara. Tiga dari mereka tidak pernah sampai di tujuan karena menjadi korban dari meningkatnya kekuatan udara Amerika di samudera Pasifik dan Atlantik. Satu-satunya U-boat yang berhasil mencapai Penang adalah U-510 (tipe IXC, berat 1.120 ton jarak jangkau 13.000 mil) dengan komandannya Kapitänleutnant Alfred Eick. Kapal selam ini langsung berlabuh di dok Swettenham bulan April 1944. Eick yang perkasa telah berhasil menenggelamkan lima buah kapal di Samudera Hindia dalam perjalanannya menuju Penang!

Selain menjadi pangkalan U-boat Jerman, Penang juga menjadi tempat berlabuh tiga buah UIT (kapal selam buatan Italia). Ketiganya adalah bekas kapal selam Angkatan Laut Italia yang dialihfungsikan oleh Jerman tanggal 10 September 1943 tak lama setelah menyerahnya Italia ke tangan Sekutu. Karena kemampuannya yang memang kalah jauh dibandingkan dengan U-boat Jerman sendiri, maka kebanyakan kapal-kapal ini digunakan hanya untuk keperluan transportasi barang-barang keperluan perang. Di bawah komando Oberleutnant zur See Werner Striegler, UIT-23 (ex-Giuliani) berangkat ke Eropa via Penang bulan Februari 1944. Baru saja keluar dari pelabuhan, Striegler kena sial dan ditorpedo oleh H.M.S. Tallyho sehingga tenggelam di Selat Malaka.

Krunya yang masih selamat dikirim kembali ke Penang dengan menaiki pesawat amfibi bermesin tunggal Arado Ar 196 yang dikirim untuk mencari mereka. Tercatat 26 awak kapal selam yang tewas dan 14 sisanya selamat dalam peristiwa ini. Ketika menerima permintaan tolong dari UIT-23, pangkalan Penang langsung mengirimkan tiga pesawat: dua Arado 196 yang diambil dari kapal dagang Jerman dan satu pesawat amfibi Reishiki buatan Jepang yang diterbangkan pilot Jerman dari pangkalan udara Kerajaan Jepang di Glugor.

Pada tahun-tahun akhir perang, tujuan kehadiran U-boat Jerman di semenanjung Malaya bukan lagi untuk bertempur melainkan hanya untuk transportasi, patroli dan pertahanan diri saja. Mereka menjadi kapal-kapal pengangkut yang bolak-balik Eropa-Asia dengan membawa bahan-bahan perang yang sangat dibutuhkan Jerman seperti karet, seng, tungsten dan pil kina. U-boat yang masih operasional dipaksa untuk menjadi kapal kargo sehingga kehilangan efektifitas tempurnya. Dengan dikomandani oleh jago U-boat Kapitänleutnant Lüdden, U-188 (salah satu dari kloter pertama Grup Monsun yang berpangkalan di Penang) adalah salah satu dari sedikit saja U-boat yang berhasil menjalankan misi transportasi jarak jauh yang dibebankan kepadanya. Mereka mensesaki ruang yang masih tersisa di kapalnya dengan lebih dari 100 ton seng dan material lainnya di Singapura dan kemudian membawanya ke pangkalan Jerman di Prancis.

Tiga kesulitan utama dihadapi Jerman dalam mengoperasikan pangkalannya di Penang ini. Ancaman utama datang dari kekuatan anti kapal selam Sekutu yang makin meningkat saja dari waktu ke waktu. Kini Samudera Hindia bukan hanya berbahaya untuk kapal dagang Sekutu saja, melainkan untuk kapal selam Jepang dan Jerman pun sama pula.

Kesulitan kedua terletak dalam hal kurangnya persediaan material dan juga manusia. Pelumas, bahan bakar, baling-baling, poros mesin, peralatan listrik, torpedo, pompa dan perlengkapan diesel - semuanya harus didatangkan langsung dari Jerman melalui, apa lagi kalau bukan U-boat. Dua bengkel perbaikan di dok Swettenham tak mampu mengimbangi besarnya permintaan dan tugas yang dibebankan terhadap mereka demi menjamin tetap mulus dan bekerjanya peralatan modern yang terdapat di U-boat Jerman.

Akhirnya, kurangnya operasi pengintaian udara rutin dan patroli kapal-kapal anti kapal selam terbukti memberi akibat yang fatal. Jerman hanya mempunyai tiga buah pesawat saja dan tanpa kapal laut, sedangkan Jepang gagal mengorganisasikan tugas pengintaian udara yang semestinya dilakukannya. Dua kapal selam Jepang dan dua lagi dari Jerman menjadi korban karena kurangnya perhatian akan hal ini.

Di bulan Maret 1944, kondisi kurangnya torpedo cadangan telah membuat Wilhelm Dommes begitu stresnya. U-1062 dengan komandan Oberleutnant zur See Karl Albrecht telah memberi nafas untuk sementara ketika dia tiba dari Eropa dengan membawa 39 buah torpedo yang diidamkan. Albrecht balik kembali ke Benua Biru dengan sarat membawa karet, seng dan tungsten. Dalam perjalanan dia dipergoki Sekutu sehingga tenggelam bersama dengan seluruh awaknya.

Empat lagi U-boat tiba di Penang medio Agustus-September 1944. Mereka adalah U-181 (Fregattenkapitän Kurt Freiwald), U-196 (Korvettenkapitän Eitel-Friedrich Kentrat), U-861 (Kapitänleutnant Jürgen Oesten), dan U-862 (Kapitänleutnant Heinrich Timm). Diberitakan bahwa kedatangan U-862 tanggal 9 September 1944 disambut secara besar-besaran dengan dihadiri langsung oleh Kapitänleutnant Wilhelm Dommes dan Laksamana Madya Uozumi Jisaku bersama dengan stafnya. Tidak ketinggalan orkes tanjidor eh sebuah marching band yang nongkrong sambil memainkan lagu kebangsaan Jepang dan Jerman.

U-852 ditangkap Sekutu bulan Mei 1944 dalam perjalanannya ke Penang untuk bergabung dengan Flotilla Monsun. Komandannya, Kapitänleutnant Heinz Eck, yang dituduh telah dengan tanpa perasaan menembaki para awak yang selamat dari kapal uap Yunani Peleus, menjadi satu-satunya kapten U-boat yang masuk pengadilan militer atas tuduhan sebagai penjahat perang dalam Perang Dunia II!

U-862 adalah U-boat Jerman terakhir yang masih operasional yang meninggalkan Eropa dan mencapai Penang. Di bawah komandan Kapitänleutnant Heinrich Timm, kapal ini melakukan perjalanan dengan cepat dan mulus tanpa hambatan. Berangkat dari pangkalannya di Eropa bulan Juni 1944, U-862 berhasil bergabung dengan U-boat lainnya di Penang tanggal 9 September 1944 setelah sebelumnya menenggelamkan tiga buah kapal dagang dan satu kapal pengangkut amunisi Sekutu hanya dalam waktu enam hari di Selat Mozambik! Dia juga tercatat dalam buku primbon sebagai satu-satunya U-boat yang beroperasi di perairan Australia, ketika pada bulan Desember 1944 berhasil menenggelamkan sebuah kapal uap Amerika berbobot 7.180 ton di lepas pantai benua tersebut.

Banyak U-boat yang diberangkatkan ke Timur Jauh tidak pernah sampai ke tujuannya: Satu di antaranya tenggelam hanya 10 mil sebelum mencapai pantai Penang. U-859 yang sedang menuju Penang dengan santai muncul ke permukaan di tengah hari tanggal 23 September 1944, untuk menunggu pertemuan dengan kapal pengawal Jepang yang sedianya akan muncul. Sebelumnya pihak berwenang Jepang telah memperingatkan Kapitänleutnant Johann Jebsen bahwa ada kabar kalau kapal selam Inggris diketahui berada di sekitar situ, hanya saja tidak berhasil terdeteksi oleh kapal patroli yang disebarkan Jepang. Kenyataannya, tanpa diduga sebelumnya, kapal selam yang dicari-cari itu (H.M. Trenchant) tiba-tiba menghantam U-859 dengan torpedo. Setelah dipastikan mangsanya hancur dan tenggelam, Trenchant muncul ke permukaan dan mengambil 11 orang awak U-boat Jerman yang berhasil selamat (beberapa di antaranya berhasil melakukan usaha penyelamatan luar biasa dari kabin kapal yang sedang meluncur ke dasar laut!). Beberapa lainnya terlihat berpegangan di puing-puing kapal yang mengambang, hanya saja Trenchant terpaksa meninggalkannya karena mendeteksi datangnya bala bantuan kapal dan pesawat Jepang yang mendekat. 20 orang selamat, sedangkan 47 orang hilang termasuk komandannya.

Adalah sebuah keberuntungan ketika U-861 tiba di Penang tanggal 22 September, sehari sebelum U-859. Di bawah komandan Kapitänleutnant Jürgen Oesten, dia adalah salah satu dari hanya sedikit saja U-boat yang berhasil mengadakan perjalanan bolak-balik Eropa-Penang tanpa pernah tersentuh!

Perairan di sekitar Penang dan Selat Malaka tetap menjadi wilayah yang "mengerikan" karena menjadi ajang utama penenggelaman kapal-kapal yang melintas, utamanya dilakukan oleh kapal-kapal selam Sekutu. Begitu parahnya ancaman di sekitar tempat ini, sehingga pada bulan Januari 1945 jalur Singapura-Rangoon ditutup. jalur Selat Selatan menuju Penang yang sempit dan lebih mendatangkan kesulitan ditanami ranjau oleh pihak Axis dan mereka lebih memilih menggunakan Jalur Selat Utara dimana secara rutin kapal-kapal Jepang mengadakan patroli.

U-843 (Kapitänleutnant Oskar Herwartz) meninggalkan Eropa bulan Februari 1944. Meskipun sempat menderita kerusakan setelah diserang pesawat patroli Sekutu di Atlantik, tapi dia berhasil mencapai Penang bulan Mei 1944. Pada tanggal 1 Desember 1944, dia adalah U-boat Jerman terakhir yang menyelinap keluar dari Dok Swettenham.

Semua kapal selam, baik kepunyaan Jerman maupun Jepang, diperintah untuk meninggalkan Penang. Dari 14 U-boat yang berpangkalan di Penang, tercatat hanya 4 saja yang berhasil kembali ke Eropa dengan selamat. Kisah heroik para awak kapal selam Jerman di Timur Jauh ini telah digambarkan dengan begitu baiknya oleh A.M. Saville dari US Naval Institue:

"Para kader terbaik U-boat Jerman ini telah menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka dengan begitu baiknya dan gagah berani, walaupun mereka menderita kekurangan dukungan yang parah, selalu dicurigai oleh Sekutu terdekatnya, dan juga menghadapi lawan yang tak kepalang tangguhnya..."

Faktor lain tak kalah pentingnya: Penang sendiri bukanlah tempat yang ideal sebagai pangkalan kapal selam. Tak pernah dalam sejarahnya Penang menjadi basis angkatan laut, sehingga ketika diputuskan untuk jadilah ia seperti itu, dibutuhkan banyak sekali buruh terlatih untuk membangun fasilitas dok, gudang torpedo, arsenal, mess dan sebagainya. Sebagai tambahan dari Gunton:

"Kondisi serba terbatas seperti ini tentu saja membuat pencapaian para awak U-boat jauh dari maksimal. 50 orang personil darat Jerman kadangkala harus langsung mengadakan perbaikan dan perawatan tak lama setelah sebuah kapal selesai dari menjalankan patroli perangnya yang melelahkan. Hanya tukang kayu dan pandai besi sederhana yang ditinggalkan untuk mengelola pelabuhan. Jangan dikata pengamanan dari sabotase yang kemungkinan muncul, hampir-hampir tidak ada!"

Sebuah U-boat yang tiba dari Eropa rata-rata memerlukan 50 hari perawatan sebelum siap untuk berangkat kembali: membersihkan kapal memakan waktu 3 hari; perawatan utama 20 hari; bersandar di dok kering Singapura 3 hari; pembersihan ulang dan pemeriksaan bagian terluar U-boat 14 hari; pengisian bahan bakar, amunisi dan makanan 14 hari; dan terakhir adalah tes menyelam. Seorang warga Cina lokal bernama Tang Theam Chye adalah salah satu di antara warga sekitar yang diperbantukan oleh Jepang untuk pekerjaan pengisian torpedo ke dalam kapal di Penang. Anaknya kemudian bercerita:

"Pekerjaan ini benar-benar pekerjaan yang 'berbau' dalam arti yang sebenarnya. Ayahku dipekerjakan karena dia mampu berbahasa Inggris dan menggunakannya dalam berkomunikasi dengan para perwira U-boat Jerman yang meminta bantuan untuk dapat mengambil persediaan dari tangan Jepang. Ayahku menceritakan betapa tanpa harapan dan merananya para awak orang Eropa tersebut, yang harus hidup dalam kondisi menyedihkan dan jauh dari kampung halaman. Demi melihat begitu sempitnya ruang 'kerja' mereka di dalam U-boat, ayahku mengatakan bahwa betapa dia merasa bersyukur tidak menjadi seperti mereka. Di lain pihak, dia juga merasa kagum terhadap teknologi bangsa Jerman yang lebih superior dibandingkan dengan semua apa yang dimiliki Jepang pada masa itu. Kadangkala dia melihat dengan mata kepala sendiri pesawat-pesawat pembom Sekutu yang datang untuk membombardir pangkalan Jerman dan Jepang di Penang."

Pangkalan Jerman, Stützpunkt Paul, bermarkas di bangunan utama yang terletak di Northam Road. Bangunan pendukung dan sarana akomodasi lainnya bertempat di Elysee Hotel dan vila-vila yang disewakan di Bell Road. Rumah bagi para perwira disediakan khusus di Rose Road. Untuk keperluan rekreasi, setiap kru U-boat Jerman dapat bermain golf, tenis, latihan menembak, memancing, atau berenang di Springtide Hotel, Penang Swimming Club atau Mount Pleasure. Mereka juga diperbolehkan untuk "cari angin" di Penang Hill, Fraser's Hill dan Cameron Highlands. Otto Giese, Perwira Pengawas Kedua di U-181 mengenang hal ini:

"Hanya sedikit saja orang yang diizinkan dalam satu waktu untuk mengambil cuti ke resort yang luar biasa indah, Penang Hill... Dengan sedikitnya kebebasan yang kami miliki dalam tugas sehari-hari, berada di sana bagaikan berada di surga dunia."

Komando Tinggi Angkatan Laut (Oberkommando der Kriegsmarine) menerbitkan sebuah buklet informasi yang disusun oleh Erhardt. Buku kecil ini dibagikan kepada setiap personil U-boat yang baru menginjakkan kakinya di Penang. Salah satunya berisi himbauan seperti ini:

"Selalu memakai pakaian sipil bila berjalan-jalan di kota. Seragam khusus untuk ini yang berwarna putih telah disediakan oleh Departemen Pelayanan Jerman. Untuk membuat anda semua mudah teridentifikasi oleh polisi lokal, bawalah selalu pin dengan tambahan simpul pita berwarna hitam, putih dan kuning."

Buklet tersebut juga menjelaskan sikap yang harus diperlihatkan oleh orang Jerman terhadap kompatriot Jepang mereka. Intinya, mereka diharuskan untuk selalu 'penuh toleransi dan adaptasi' karena Jepang adalah 'satu-satunya sekutu kita yang loyal dan paling kuat'. Pengingat ini kadang tidak ada artinya di lapangan dimana banyak terjadi kesalahpahaman di antara kedua bangsa tersebut. Padahal Jepang pun telah mendapat instruksi serupa untuk memperlihatkan sikap penuh persahabatan terhadap orang-orang Jerman:

"Para pelaut Nordik muda itu mungkin akan menjadi sedikit noda bagi filosofi Kemakmuran Asia Timur Raya. Mereka seringkali berkeliaran ketika berada di daratan Penang, dan tak menganggap setiap militer Jepang yang mereka temui. Beberapa kali terjadi perselisihan antara petugas yang berwenang dengan para pelaut ini, yang diperparah lagi dengan ketiadaannya bahasa yang dapat dimengerti bersama. Untunglah hal-hal ini tidak berlaku seterusnya dan dapat ditekan ke angka minimum."

Kondisi yang nyaman dan menyenangkan yang dialami oleh setiap pelaut Jerman di Penang telah menimbulkan kecemburuan bagi Sekutu Jepang mereka yang notabene merupakan pemegang kendali di sana. Meskipun secara umum penduduk sekitar menderita kekurangan makanan yang akut, orang-orang Jerman tak pernah mengalami masalah semacam ini. Sehari-hari mereka menerima ransum makanan yang cukup, termasuk roti yang terbuat dari gandum hitam yang diproduksi oleh pabrik khusus; daging dari tukang daging lokal yang kebetulan sama-sama bule Jerman; dan juga sayur-sayuran semacam kentang dan kol. Makan sembarangan di warung-warung pinggir jalan dilarang keras karena dikhawatirkan akan terkena wabah penyakit tifus dan kolera yang berasal dari makanan yang tidak terjamin higienisnya, begitu pula alkohol produksi lokal yang tidak diperbolehkan untuk diminum para pelaut Jerman, kecuali bir.

Orang Jerman merasa seperti diulangtahunkan lebih-lebih lagi ketika kapal uap S.S. Nanking yang dilengkapi ruang pendingin berhasil ditangkap utuh bersama muatannya yang penuh oleh kapal patroli Jerman Thor dalam perjalanannya dari Australia ke Birma bulan Mei 1942. Di dalam ruang penyimpanan dan freezernya didapati 42.000 kardus daging kaleng, 28.000 bungkus buah-buahan dan sayuran, 800 ton terigu, plus mentega juga daging sapi dan babi yang masih segar! Sampai akhir perang, kapal ini ditambatkan di Pelabuhan Penang dan berfungsi sebagai gudang makanan!

Seperti semua saga lainnya, tak lengkap rasanya kalau kita tidak mengetengahkan kisah romantis yang terselip dalam artikel ini. Di tengah kecamuknya perang, terjalin kisah cinta yang indah antara perwira Jerman Willi Hans Böhm dengan Agnes Vaz, gadis lokal yang masih mempunyai darah Portugis.

Böhm mendapati dirinya 'terdampar' di Jepang ketika kapal tanker yang ditumpanginya, Uckermark, meledak di Pelabuhan Yokohama akibat sabotase dari orang yang tidak diketahui. Komandan kapal Walther von Satorski ditransfer ke Singapura sementara Böhm sendiri dikirim ke Penang. Disana dia bertemu dan kemudian menjalin kasih dengan Agnes Vaz, seorang perawat. Ketika makanan makin susah didapat, Böhm biasa menyelundupkan makanan dari messnya ke rumah pacarnya di Sungai Nibong dengan mengendarai sepeda. Anaknya Willi Goya mengatakan bahwa dalam masalah ini Böhm telah mengambil resiko yang tidak alang kepalang besarnya:

"Ayahku harus sangat berhati-hati karena saat itu hubungan antara wanita lokal dengan 'musuh' (orang-orang Jerman) dilarang dengan keras."

Ketika perang berakhir pada tahun 1945, Böhm diinternir bersama dengan orang-orang Jerman lainnya di Changi. Setelah dibebaskan setahun kemudian, yang pemuda ini lakukan adalah menikah dengan kekasih tercintanya, Agnes Vaz. Mereka dikaruniai tiga anak di Jerman pasca-perang dan tiga lagi di Penang sebelum bermigrasi ke Australia tahun 1973. Tahun 2004, ketika Willi Böhm meninggal di Perth karena kanker paru-paru dalam usianya yang ke-86 tahun, kisah cinta mereka menarik perhatian dunia internasional. Kesehatannya yang terus memburuk membuat dia tidak dapat melaksanakan keinginan terakhirnya, yaitu mengunjungi Penang untuk terakhir kalinya. Masyarakat Malaysia menanggapi dengan hangat permohonan melalui internet dari keluarga Böhm untuk mengirimkan bendera Penang ke Australia. Dan ketika pada akhirnya peti jenazah Willi Hans Böhm diturunkan ke liang lahat, dua buah bendera dibentangkan di atasnya, dua bendera yang sangat dia cintai: bendera Jerman dan bendera Penang.


Ratusan Orang Tentara Belanda Yang Memerangi Republik Dalam Perang Kemerdekaan Indonesia Adalah Veteran Waffen-SS!

Tipe para tentara KNIL dengan senjata 'jadul' mereka. Apakah di antaranya ada yang mantan Waffen-SS?



Tipe salah satu kendaraan lapis baja yang dikerahkan Belanda dalam pendudukannya di Indonesia


Oleh : Alif Rafik Khan


Di antara tentara-tentara Belanda yang datang ke Indonesia dan memerangi para pejuang kemerdekaan negara ini, ternyata sebagian di antaranya adalah mantan veteran Waffen-SS yang notabene menjadi ‘pengkhianat’ negaranya sendiri dalam Perang Dunia II yang berlangsung hanya beberapa tahun sebelumnya! Kebanyakan para prajurit yang telah banyak makan asam garam pertempuran di Front Timur ini berasal dari Divisi Grenadier Sukarelawan SS ke-34 ‘Landstorm Nederland’ (34. SS-Freiwilligen-Grenadier-Division Landstorm Nederland).


Fakta mengejutkan ini diungkapkan oleh mantan perwira intelijen Belanda Brine van Houten, yang berkata bahwa pemerintah Belanda terpaksa mengambil kebijakan ‘tidak populer’ tersebut karena memang saat itu sumber daya manusia yang siap dalam segi milter sangat terbatas disebabkan banyaknya yang telah tewas dalam perang, masih dalam penjara atau memang sudah tidak mau lagi mengurusi mesiu. Dikatakannya bahwa sebanyak 548 orang mantan Waffen-SS telah bertugas di Indonesia selama berlangsungnya Perang Kemerdekaan (1945-1949). Sebagian dari mereka bergabung sebagai bawahannya Raymond Westerling dan terlibat dalam pembantaian-pembantaian brutal yang dilakukannya terhadap rakyat sipil selama bertugas di Sulawesi. Sampai kematiannya, manusia durjana ini tidak pernah tersentuh oleh tangan hukum!


Sebenarnya, keterlibatan veteran Waffen-SS ini telah dipublikasikan untuk pertama kalinya oleh C. Van Esterik dalam artikelnya di NRC Handelsblad yang terbit pada tahun 1984. salah satu kutipannya berbunyi : “Salah satu perputaran sejarah yang menjadi ironi, ketika sebagian tentara yang bertugas di Indonesia demi membela tanah air mereka, hanya beberapa waktu sebelumnya ikut pula memerangi tanah tumpah darah mereka sendiri demi membela Adolf Hitler!” Seorang mantan perwira KNIL berkata bahwa tentara mantan sukarelawan Nazi itu dipercaya lebih berdisiplin dan tangguh dibandingkan dengan tentara Belanda biasa.


“Saya bertugas sebagai seorang perwira KNIL dari Brigade Infanteri Pertama di bawah Kolonel Thomson yang menjadi bagian dari Divisi ke-7 dan ikut dalam aksi-aksi ‘polisionil’ di Hindia. Bisa dibilang, prajurit-prajurit KNIL seperti kami adalah pasukan yang masih hijau dan belum pernah bertempur di Hindia sebelumnya. Karena itulah kami membutuhkan bantuan dari pasukan-pasukan mantan SS agar dapat menolong kami dalam menjelajahi alam Hindia yang masih asing.”


Sodara-sodara, keterangan selanjutnya dari si perwira KNIL ini benar-benar mengejutkan saya, karena dia bercerita bahwa dia pernah bertempur di Sukabumi (my beloved homeland), tepatnya di Cibadak! Kemungkinan besar peristiwa inilah yang kemudian terkenal sebagai Pertempuran Bojong Kokosan. Bayangkan, ada SS di Sukabumi! Mau makan mochi, Meneer? Inilah kutipannya :


“Dalam suatu aksi pertempuran, pasukan kami diturunkan ke Sukabumi di dekat Tjibadak dan mendapat perlawanan seru dari para ‘pemberontak’ (saya kutipkan seadanya apa yang dia katakan, termasuk yang menyakitkan hati sekalipun!). kami sendiri berada di bawah komando Baron Taets van Amerongen.”


“Suatu hari saya melihat salah seorang prajurit dari kompi kami yang sedang berolahraga pagi dengan hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada. Saya terkejut begitu melihat bahwa di bawah ketiaknya terdapat bekas jahitan luka yang sangat kasar seakan-akan dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman atau dalam keadaan terburu-buru. Jahitannya jarang-jarang, dan menimbulkan kesan mengerikan pada siapapun yang melihatnya.”


“Saya lalu bertanya pada si prajurit tersebut akan ‘luka’ yang dideritanya. Saya terkejut begitu tahu bahwa itu bukanlah luka yang didapatnya dari peperangan, melainkan akibat dari pengelupasan kulit secara sengaja dengan menggunakan pisau tajam! Tentu saja saya bertanya apa alasannya? Dia berkata bahwa dalam lapisan kulit tersebut telah tertera sebuah tato yang dia tidak ingin orang lain ada yang mengetahui atau melihatnya. Tato apakah itu? Tato yang sama yang disematkan pada setiap anggota Waffen-SS, yang menunjukkan dari mana dia berasal.”


“Saya tertegun. Saat itu hal tersebut adalah sesuatu yang benar-benar baru bagi saya, orang awam yang tidak mengerti politik. Yang saya tahu, orang-orang ini (warga negara Belanda yang menjadi sukarelawan Nazi) adalah orang-orang ‘hina’ yang telah memerangi kawan sebangsanya demi memenuhi keinginan bangsa asing, dan kini mereka berada dalam satu kesatuan dengan saya!”


Setiap anggota dari Waffen-SS memang berbeda dengan kesatuan Jerman lainnya dalam hal masing-masing mereka mendapat ‘cenderamata’ tato yang diletakkan di bawah ketiak, tato yang menerangkan golongan darah mereka. Gunanya adalah dalam waktu pertempuran dan mereka terluka, maka akan mudahlah bagi tim medis untuk memberikan transfusi darah yang diperlukan dengan hanya menyingkapkan ketiaknya dan mendapati golongan darah si prajurit tersebut tertera disana.


“Ketika saya tanyakan bagaimana dengan teman-teman dia lainnya yang juga merupakan veteran Waffen-SS yang direkrut ulang oleh Belanda, dia menjawab bahwa dia tidak tahu mengenai hal itu, karena mereka dipisah-pisahkan dalam unit lain. Ada yang tetap bertugas di Belanda, dan ada juga yang dikirim ke Indonesia.”


“Saya adalah keturunan Yahudi Belanda dan beberapa anggota keluarga saya telah ‘musnah’ di kamp konsentrasi Jerman. Kini saya memerangi orang Indonesia dengan dibantu oleh tentara-tentara yang pernah mengabdi pada Hitler! Apapun alasannya, saya tetap tidak bisa menerimanya. Saya langsung melaporkan hal tersebut ke atasan saya, Taets van Amerongen.”


“Ketika saya menceritakan kepadanya apa yang saya ketahui, tak disangka dia langsung begitu marahnya. ‘Kau tak punya hak apapun dalam hal ini!’ semprotnya, dan dia langsung menutup pintu. Aku tak menyerah, dan tetap melaporkan hal yang sama pada seorang sersan dari kesatuan Polisi Militer yang kebetulan lewat. Dia sama terkejutnya denganku, dan berjanji akan menceritakan hal ini pada staffnya yang berada di Buitenzorg (Bogor). Sekitar dua minggu kemudian datanglah seorang kapten dari Polisi Militer dan menyuruhku menghadap.”


“Dia berkata bahwa dia telah menyelidiki apa-apa yang telah kukatakan sebelumnya kepada si Sersan, dan mendapati bahwa hal itu adalah benar adanya. ‘Tapi kita tidak dapat melakukan apa-apa dalam soal ini,’ katanya. Karena semuanya telah diatur oleh pemerintahan Belanda di Den haag dan merupakan kebijakan resmi yang sengaja ditutup-tutupi demi menjaga jangan sampai ada gejolak dalam masyarakat.”


Dari artikel Esterik juga disampaikan sebuah memoranda dari sumber anonim :


“Pengambil keputusan tidak populer ini beralasan bahwa sesungguhnya kemampuan para mantan Waffen-SS ini akan lebih berguna bila diberdayakan kembali daripada menumpulkannya dengan cara memasukkan mereka ke dalam tahanan sampai berkarat. Ketika ditawari pilihan tersebut, kebanyakan para mantan Waffen-SS ini pun bersedia untuk mendarmabaktikan kemampuannya yang berharga demi tanah air Belanda tercinta. Mereka beralibi bahwa mereka masih tetap mencintai negaranya, dan tindakannya di masa lalu yang membela musuh negaranya semata karena kecintaan mereka pada agama kristen yang membuat mereka memerangi komunis Rusia. Cara satu-satunya adalah dengan bergabung dengan SS Nazi. Inilah saat yang tepat untuk merehabilitasi mereka dan memberi kesempatan untuk menebus kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan. Cukup berikan senjata, latih secukupnya selama beberapa minggu dalam penggunaan senjata-senjata bekas Sekutu, dan kirimkan mereka untuk bertempur di Hindia Belanda. Perekrutan dilakukan secara sukarela, dan kita boleh berharap antara 15.000 sampai dengan 30.000 para prajurit terlatih dan berpengalaman dari SS ini yang mendaftar untuk bergabung dengan tujuan kita. Sebagian besar dari mereka akan berperan sebagai pasukan pelopor/serbu, sesuai dengan fungsi mereka di masa lalu.”


Dari ‘nada suara’ memoranda tersebut, bisa terlihat bahwa yang menulisnya adalah orang dalam sendiri yang tahu persis mengenai kebijakan yang diambil pemerintah Belanda, atau bahkan mungkin yang menjadi pencetusnya. Seorang mantan perwira intelijen Brine Wood malah yakin bahwa pihak yang berinisiatif untuk memakai jasa para mantan pasukan sukarelawan SS untuk bertempur di Indonesia adalah Gereja Katolik Roma! Kenyataannya tak akan pernah kita ketahui (setidaknya sampai saat ini), karena pengarang memoranda tersebut tetap meminta namanya untuk disamarkan.


Dalam artikelnya yang menggemparkan tersebut, Esterik menyimpulkan, yang diambil dari hasil observasinya selama ini :


“Tak ada satupun dari dokumen-dokumen yang kini telah menjadi arsip negara ini yang menyebutkan siapa penggagas kebijakan untuk menggunakan jasa militer para mantan Waffen-SS, bahkan tak secuilpun indikasi yang mengarah kesana. Yang jelas, siapapun pencetusnya maka dia pastilah orang yang mempunyai kuasa yang cukup besar sehingga mampu meloloskan kebijakan rehabilitasi para tahanan politik kontroversial ini dengan diam-diam setelah sebelumnya mendapat persetujuan dari Angkatan Bersenjata Belanda. Hanya sebatas inilah yang saya ketahui, sedangkan siapa dia, kapan dikeluarkannya, dalam level apa kebijakan ini keluar, masih berada dalam kabut gelap yang tak satupun yang mengetahuinya, atau diizinkan untuk mengetahuinya.”


Sampai hari ini, salah satu lembaran hitam sejarah Belanda ini masih tertutup selimut misteri yang tak terungkap...


Biografi Hauptmann Dr.jur. Hellmuth Schreiber Volkening (1911-1942), Penerima Ritterkreuz Kelahiran Indonesia!

Hellmuth Schreiber Volkening sebagai Oberleutnant



Sang penerima Ritterkreuz kelahiran Sumatera. BTW, foto ini aslinya sebelum dia menerima Ritterkreuz, dan dengan menggunakan teknik fotografi jadul (sebelum Photoshop ada), ditambahlah Ritterkreuz "jadi-jadian" di lehernya!


Hellmuth Schreiber Volkening bersama para Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz) dari Resimen Infanteri ke-16, yang merupakan bagian dari Divisi Infanteri Jerman ke-22. Ini adalah acara pemberian Ritterkreuz yang diserahkan langsung oleh Reichsmarschall Hermann Göring dan bertempat di Rotterdam, tanggal 29 Mei 1940. Dari kiri ke kanan : Oberleutnant Hermann-Albert Schrader (pangkat terakhir : Hauptmann), Oberstleutnant Dietrich von Choltitz (pangkat terakhir : General der Infanterie), Oberst Hans Kreysing (pangkat terakhir : General der Gebirgstruppe), Feldwebel August Grauting (pangkat terakhir : Oberleutnant), dan Oberleutnant Hellmuth Schreiber Volkening (pangkat terakhir : Hauptmann)


Ketika saya sedang asyik surfing di internet mencari artikel tentang hubungan antara Maria Ozawa dengan Adolf Hitler (wtf?), saya terkejut ketika mendapati bahwa dari 7.366 penerima Ritterkreuz (Knight’s Cross/Salib Ksatria), medali paling bergengsi yang dipunyai Jerman, setidaknya satu di antaranya berasal dari Indonesia, yaitu Hellmuth Schreiber Volkening! Ini dilihat dari tempat kelahirannya, dan bukan keturunannya. Dan untuk ini pun saya belum berani berkesimpulan bahwa dia satu-satunya yang berasal dari Indonesia, karena mungkin saja ada peraih Ritterkreuz lainnya, yang saya belum ketahui, yang mempunyai hubungan yang sama dengan tanah air tercinta!
Untuk biografinya sendiri, baru ini yang saya dapatkan. Silakan dicicipi!
Hellmuth Schreiber Volkening dilahirkan di pulau Sumatera tanggal 22 November 1911 sebagai anak dari dokter Jerman yang bertugas di Hindia Belanda. Saya belum mendapatkan keterangan lengkap tentang tempat persis lahirnya atau bagaimana kehidupan dia selama di Indonesia, yang jelas kemungkinan besar dia hanya sebentar saja disini, untuk kemudian pindah mengikuti orangtuanya yang meneruskan praktik dokter di Jerman.
Setelah menamatkan sekolahnya , Schreiber Volkening mempelajari hukum di Königsberg dan Münich, dilanjutkan dengan mengambil gelar doktoratnya, sehingga di depan namanya ada embel-embel Dr.jur.
Tahun 1932 dia memutuskan untuk mendaftar ke Angkatan Darat (Reichsheer) dan tahun 1934 telah menjadi kadet di Resimen Infanteri ke-16. tanggal 1 April 1936 dia telah dipromosikan menjadi Leutnant, dan memperdalam pengetahuannya akan bahasa Inggris dan Prancis. Promosi menjadi Oberleutnant terjadi di tahun 1939, dan ketika Perang Dunia II pecah, Schreiber Volkening terdaftar sebagai komandan kompi 9 di Resimen Infanteri ke-16 yang merupakan bagian dari Divisi Infanteri ke-22. Dalam penyerbuan Jerman ke Negara-Negara Bawah dan Prancis, dia memperlihatkan kapasitas terbaiknya sebagai seorang perwira, sehingga dianugerahi Ritterkreuz pada tanggal 29 Mei 1940.
Tahun 1941 Schreiber Volkening ditempatkan di Sekolah Militer Potsdam, dan tahun 1942 dia diangkat sebagai Hauptmann (Kapten). Sayangnya, tokoh kita kali ini tidak sempat mencicipi akhir dari peperangan, karena tanggal 9 Agustus 1942 dia telah gugur dalam pertempuran di Reschew, Russia, sebagai staff dari sebuah divisi lapis baja.
Untuk ini saya kutipkan berita dari “Oldenburger Nachrichten” no.224 terbitan 17 Agustus 1942 :
“Tanggal 9 Agustus telah gugur Dr. Hellmuth Schreiber Volkening, seorang Kapten dari sebuah divisi lapis baja, dalam pertempuran defensif yang berat di wilayah tengah dari Front Timur. Dengan kepergiannya, maka Gauhaupt dan kota perbatasan Oldenburg telah kehilangan salah satu putra terbaiknya sekaligus peraih Ritterkreuz, yang namanya berhubungan erat dengan pertempuran gilang gemilang dari resimen kita dalam merebut jembatan-jembatan di Rotterdam, sehingga dengannya pasukan Jerman dapat saling berhubungan di bulan Mei tahun 1940. Dalam pertempuran yang dahsyat ini, dia telah menggantikan para komandan sebelumnya yang telah gugur terlebih dahulu, yaitu Hauptmann Hermann Schrader dan Oberleutnant August Grauting, dan kemudian membawa pasukannya menyerbu jembatan-jembatan yang belum diduduki di Benteng Belanda. Jerih payahnya yang tak kenal lelah dalam bertempur habis-habisan siang dan malam telah membuatnya dianugerahi Ritterkreuz, yang diserahkan langsung dari tangan Reichsmarschall (Hermann Göring).”
“Beberapa bulan setelah penghargaan tersebut, dia ditugaskan ke Sekolah Pelatihan Komando di Potsdam, untuk menurunkan pengalaman bertempurnya yang berharga sebagai guru dan pelatih. Setelah mengikuti sekolah lanjutan di Akademi Militer dan dinaikkan pangkatnya menjadi Hauptmann, dia meminta untuk ditugaskan kembali di front depan pertempuran. Permintaannya dikabulkan, dan dia ditempatkan pertama-tama di artileri, lalu dipindahkan ke divisi panzer. Di saat yang ditakdirkan sebagai hari kematiannya, dia telah menjalani kewajibannya sebagai seorang komandan militer dengan sebaik-baiknya.”
“Kepergiannya ditangisi oleh para kameradnya yang berada di resimen yang sama, yang telah mengenalnya sebagai seorang prajurit yang berdedikasi, seorang teman yang setia, dan seorang pemberi nasihat yang berharga. Sebagai salah seorang penulis artikel rutin di koran resimen kita “Der Waffenträger”, dia telah banyak memberikan buah pikirannya untuk kemajuan resimen, dan tulisan-tulisannya yang tak terhitung tetap dapat kita pelajari sampai saat ini. Dia akan tetap hidup di hati kita sebagaimana dia di mata para prajurit yang telah bertugas di bawah kepemimpinannya. Hanya ada kata-kata sederhana bagi dia, dari keperwiraannya di hari-hari Rotterdam yang panas sampai saat kematiannya : seorang lelaki yang sederhana, rekan seperjuangan yang baik, dan prajurit pemberani. HE.”
Saya sertakan pula kata-kata aslinya yang berbahasa Jerman, kalau-kalau terjemahannya dirasa kurang tepat bagi yang mengerti :
“Am 9 August fiel bei den schweren Abwehrkämpfen im mittleren Abschnitt der Ostfront Dr. Hellmut Schreiber-Volkening, Hauptmann in einer Panzerdivision. Mit ihm verliert die Gauhaupt- und Garnisonstadt Oldenburg einen ihrer Ritterkreuzträger, deren Namen mit den ruhmvollen Kämpfen unseres Regiments um die Brücken von Rotterdam im Mai 1940 unlösbar verknüpft sind. Er folgte seinen Kameraden Oberleutnant August Grauting und Hauptmann Hermann Schrader in den Tod, die mit ihm jene Brücken zur Festung Holland stürmten, im härtesten Ringen durch Tage und Nächte hielten und mit ihm aus der Hand des Reichsmarschalls das Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes für diese entscheidende Waffentat empfingen.”

“Wenige Monate nach dieser Bewährung führte ihn ein Kommando zur Kriegsschule in Potsdam, wo er bis vor kurzem sein reiches militärisches Wissen als Lehrer und Ausbilder verwerten durfte. Ausersehen zum Besuch der Kriegsakademie und zum Hauptmann befördert, suchte er weitere Fronterfahrung – zunächst bei der Artillerie, später in einer Panzerdivision. Am Tage der Beendigung dieses Frontkommandos erfüllte sich sein soldatisches Schicksal.”

“Mit den Kameraden seines Regiments und allen, die ihn als Mensch und Soldaten kannten und schätzten, trauern auch wir um einen unserer treuesten Freunde und Berater. Als Mitarbeiter unserer Beilage „Der Waffenträger“ stellte er unserer Zeitung sein Wissen und seine glänzende Gabe zu schreiben in unzähligen Artikeln zur Verfügung. Er wird uns so unvergessen bleiben wie er in den Herzen seiner Soldaten, die mit ihm die heißen Tage von Rotterdam durchkämpften, weiterleben wird: Ein schlichter Mensch, ein guter Kamerad und ein tapferer Soldat.”



 

Footer Widget #1

Copyright 2010 Aerodeo Messias. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Blogger Template